Tuesday, September 28, 2010

Ukti, kamu cantik sekali..

Ukhti, kamu cantik sekali

Tapi hanya di mata manusia. Sedangkan yang Maha Kuasa tak pernah memandang rupa atau pun bentuk tubuh kita. Namun Ia melihat pada hati dan amal-amal yang dilakukan hamba-Nya.

Ukhti, kamu cantik sekali

Tapi cantik fisik tak akan pernah abadi. Saat ini para pesolek bisa berbangga dengan kemolekan wajah ataupun bentuk tubuhnya. Namun beberapa saat nanti, saat wajah telah keriput, rambut pun kusut dan berubah warna putih semua, tubuh tak lagi tegak, membungkuk termakan usia, tak akan ada lagi yang bisa dibanggakan. Lebih-lebih jika telah memasuki liang lahat, tentu tak akan ada manusia yang mau mendekat.

Ukhti, kamu cantik sekali

Tapi kecantikan hanyalah pemberian dan untuk apa dibangga-banggakan? Sepantasnya kecantikan disyukuri dengan cara yang benar. Mensyukuri kecantikan bukanlah dengan cara memamerkan, memajang gambar atau mengikuti bermacam ajang lomba guna membandingkan rupa, sedangkan hakekatnya wajah itu bukan miliknya. Tidakkah engkau jengah bila banyak mata lelaki ajnabi yang memandangi berhari-hari? Tidakkah engkau malu ketika wajahmu dinikmati tanpa permisi karena engkau sendiri yang memajang tanpa sungkan. Ataukah rasa malu itu telah punah, musnah? Betapa sayangnya jika demikian sedangkan ia sebagian dari keimanan.

Ukhti, kamu cantik sekali

Tapi apa manfaat pujian dan kekaguman seseorang? Adakah ia akan menambah pahala dari-Nya? Adakah derajatmu akan meninggi di sisi Ilahi setelah dipuji? Tak ada yang menjamin wahai ukhti. Mungkin malah sebaliknya, wajah cantik itu menjadikanmu tak punya harga di hadapan-Nya, karena kamu tak mampu memelihara sesuai dengan ketentuan-Nya.

Ukhti, kamu cantik sekali

Kecantikan itu harta berharga, bukan barang murah yang bisa dinikmati dengan mudah. Dimana nilainya jika setiap mata begitu leluasa memandang cantiknya rupa. Dimana harganya jika kecantikan telah diumbar, dipajang dengan ringan tanpa sungkan. Dimana kehormatan sebagai hamba tuhan jika setiap orang, baik ia seorang kafir, musyrik atau munafik begitu mudah menikmati wajah para muslimah?

Ukhti, kamu cantik sekali

Alangkah indah jika kecantikan fisik itu dipadu dengan kecantikan hatimu. Apalah arti cantik rupawan bila tak memiliki keimanan. Apalah guna tubuh molek memikat bila tak ada rasa malu yang lekat. Cantikkan dirimu dengan cahaya-Nya. Cahaya yang bersinar dari hati benderang penuh keimanan. Hati yang taat senantiasa patuh pada syariat. Hati yang taqwa, yang selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Hati yang sederhana, yang tak berlebihan dalam segala urusan dunia.

Ukhti, kamu cantik sekali

Maka tampillah cantik di hadapan penciptamu karena itu lebih berarti dari pada menampilkan kecantikan pada manusia yang bukan muhrimmu Tampillah cantik di hadapan suamimu, karena itu adalah bagian dari jihadmu. Mengabdi pada manusia yang kamu kasihi demi keridhoan Ilahi. Tampillah cantik, cantik iman, cantik batin, cantik hati, karena itu lebih abadi.

( FB : Ummu Zufar )

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad-jasad kalian dan tidak juga kepada rupa-rupa kalian akan tetapi Allah melihat kepada hati-hati kalian (dan amalan-amalan kalian)” (HR. Muslim)

http://www.facebook.com/notes/renungan-n-kisah-inspiratif/ukhti-kamu-cantik-sekali/472423241041

jilbabku dan egoku

memakai jilbab itu sudah mutlak merupakan perintahNya.
bahkan, suatu cerita yang pernah kudengar adalah salah satu penghuni neraka yang paling banyak adalah wanita karena mereka tidak mau menutup auratnya semasa hidupnya.
namun, mungkin tidak semudah itu untuk menjalankan perintah di atas.
butuh suatu keimanan yang kecintaan yang kuat terhadap Allah SWT dan RasulNya, agar kita dapat dengan segenap hati beristiqomah menutup yang tidak seharusnya diperlihatkan kepada khayalak.

ketika dalam goyahku dan dalam godaan itu,
satu pikiran yang dapat menolongku untuk tetap mempererat jilbabku selain karena perintah itu adalah dengan berpikiran bahwa aku ingin menspesialkan orang yang akan menjadi imamku.
bukankah dengan kita memberikan satu kekhususan padanya yaitu dia dapat melihat kita yang sebenar-benarnya dari ujung rambut hingga ujung kepala, adalah salah satu tanda cinta kita padanya?
dan semoga imamku akan lebih mencintaiku karena hal itu.

dan dekaplah aku dalam dekapanmu Tuhan
karena engkaulah kekasih hatiku
engkaulah penerang jiwaku
dan engkaulah sebenar-benarnya pemilik dari jiwa ragaku

Monday, September 27, 2010

bergantung

kalau manusia itu sudah sangat tergantung dengan orang lain, maka hidupnya pasti akan lebih susah dibandingkan dengan manusia yang bisa mandiri.

bukan berarti kita tak boleh saling menolong orang lain yang membutuhkan dengan alasan kita tak boleh bergantung kepada orang lain,
namun hanya memang tiba pada saatnya kita harus melakukan sesuatu sendirian, kita bisa melakukannya.
hanya itu saja.

bergantunglah pada Tuhan, sebab hanya Tuhanlah satu-satunya tempat yang pantas dan paling baik untuk kita bergantung kepadaNya.

karena manusia pada awalnya diciptakan sendirian.
dan akan kembali kepadaNya dalam keadaan yang sendirian pula.

antara Tuhan dan impian

ketika impian itu membentur larangan Tuhan
apalagi yang dapat kulakukan?
hanya dapat berdiam diri
dan terkubur jauh ke dalam relung terdalam
menahan semua rasa dan asa
karena ku tak mungkin menyakitimu Tuhan
ku tak boleh menyakitimu Tuhan

dan ketika itu benar terjadi
yang kumau Tuhan
kuatkan aku dalam keteguhanku
dekap aku dalam kekuatan imanku
berilah sayap pada mimpiku
dan bawa anganku itu terbang jauh
menembus cakrawala hingga langit ke tujuh

dvd player

karena hidup bukan seperti dvd player, yang dapat kita play, pause, forward ataupun backward.

hidup ini hanya 1 kali, dan kita tak akan pernah kembali ke masa lalu.
bukan saatnya untuk menyesali atas apa yang telah lalu, yang kita lakukan adalah memetik pelajaran dan tak mengulangi kesalahan yang sama.
waktu pun tak akan mau berhenti semau kita.
karena itu janganlah isi waktu kita dengan kesia-siaan yang akan berujung pada kehampaan di akhir nantinya.
dan sudah tentu, kita tak dapat memilih akan apa yang akan terjadi nanti.
kita tidak bisa men-skip hal yang kita tidak suka atau kewajiban yang harus kita penuhi hanya untuk ego semata.
yang bisa kita lakukan adalah menjalani hidup ini.
dengan sebaik-baiknya.
dengan sebenar-benarnya.
karena hidup itu hanya satu kali.


*terinspirasi ketika nonton princess hour di suatu channel tv, ketika ada suatu adegan yang terlewatkan dan seketika saya sadar bahwa kalau kita menonton film di tv kita tidak bisa mengulangnya dengan remote.
sama dengan hidup ini. kita tak bisa mengendalikannya dengan remote control.

Sunday, September 26, 2010

waktu Indonesia

mungkin ngga semua orang Indonesia begini, dan beberapa temen saya juga ada yang tidak begini.
berawal dari perkataan seorang teman,yang langsung membuat saya berpikir, 'oooo..orang Indonesia'

sore itu saya berjanji dengan beberapa teman untuk datang ke tempat janjian jam 5 sore, namun jadi dimajukan waktu janjiannya jadi jam 4 sore, karena alasan takut terlambat untuk datang ke acaranya.
namun ketika saya pergi untuk menjemput salah satu teman saya *saat itu jam 4 kurang*, teman tersebut belum siap dan bilang
'janjiannya jam 4 kan? berangkatnya dari tempat janjian nanti jam 5 kan?'

memang, sudah sangat umum di Indonesia untuk memajukan waktu jam perjanjian dengan alasan supaya bisa menunggu yang telat.
misal, kita sebenarnya akan berangkat jam 3 sore tapi kita memberitahu pserta janjian untuk datang jam 2. hal itu untuk antisipasi adanya pesrta yang datang terlambat supaya ketika benar2 jam 3 maka kita akan berangkat.

orang Indonesia memang dikenal dengan keterlambatannya.
mungkin dalam segala hal, dari mulai petinggi-petinggi pemerintahan sampai rakyat biasa.
terlalu sibuk? mungkin..tapi mungkin juga kita hanya didera kemalasan dalam bergerak dan untuk memulai sesuatu.
saya terkadang juga termasuk dalam orang di atas sana.
terkait dengan blog saya sebelumnya yang berbicara tentang kemalasan, dan menunda-nunda sesuatu.

namun, apa salahnya jika kita datang secara tepat waktu?
kalau kita dibilang janjian jam 2 apa salahnya jika benar2 bersiap untuk datang secara tepat waktu jam 2?

saya jadi teringat lagi ketika ada seorang professor dari jepang yang akan naik kereta, namun kereta tersebut datang terlambat setengah jam dari waktu keberangkatannya.
dan beliau hanya bilang 'well..it's quite on time..'
padahal di jepang, ketepatan waktu itu ada sampai pada hitungan menit dari waktu kedatangan kereta. dan di Indonesia telat setengah jam sudah dianggap biasa.

blog ini bukan ditujukan hanya untuk satu orang, sungguh.
hanya merasa tergelitik dengan kenyataan yang saya pikir menjadi suatu kebiasaan bangsa yang besar ini.

Saturday, September 25, 2010

kemalasan

baru dapat kata-kata (lupa dari mana)
dan lagi cocok banget dengan yang lagi dirasain akhir-akhir ini

cara untuk memerangi kemalasan itu adalah dengan melakukan semua pekerjaan itu.

memang benar, satu2nya cara supaya kita tidak malas adalah dengan tidak berpikir panjang untuk melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.
kalau kita menunda-nunda *tanpa ada alasan yang kuat, dan jangan sekali-kali untuk membuat alasan sendiri*, maka kemalasan itu akan semakin menjadi-jadi.

walaupun saya juga masih termasuk dalam kategori orang yang malas,
tapi saya harap saya, dan kita, sedikit-demi sedikit mulai bisa berubah supaya lebih rajin dan melakukan pekerjaan kita tepat waktu dan tidak ditunda-tunda.

semangat! hoho

absurd

hahaha. baru nyadar.
di blog ini yang saya khususkan (kurang lebih lah yaa) buat pake bahasa indonesia, tulisan settingannya pada pake bahasa inggris.
sedangkan di blog saya yang satu lagi, yang pake bahasa inggris, settingannya pake bahasa indonesia.

agak kocak juga ini rupanya. hehe

Thursday, September 23, 2010

man jadda wajada

dapat dari seorang teman, yang saya rasa sangat bagus bila di share lagi ke orang lain :)

Man jadda wajada.. :)

-----

Waktu itu, sekitar tahun 2000, datang seorang mahasiswi kepada seorang dosen. Dia menghampirinya dengan wajah yang muram, dan kemudian berkata, "Pak, beasiswa Program Magister dan Doktor saya lolos". Hanya itu saja kata2 yang keluar dari mulutnya, tanpa diikuti ekspresi apapun dari wajahnya. Padahal di luar sana berjuta - juta orang memimpikan pencapaian ini. Sang dosen tertegun, kemudia dia berkata, "Bagus dong dek, kamu bisa bikin bangga banyak orang, dan itu merupakan jalan hidup yang sangat baik. Lalu apa yang membuat kamu terlihat bimbang dek?"

Akhirnya mahasiswi itu bercerita kepada sang dosen. "Pak, sekolah hingga S2 dan S3 merupakan cita-cita saya sejak kecil, ini adalah mimpi saya, tidak terbayangkan rasa bahagia saya saat memperoleh surat penerimaan beasiswa ini. Tapi pak, saya ini akhwat, saya wanita, dan saya bahagia dengan keadaan ini. Saya tidak memiliki ambisi besar, saya hanya senang belajar dan menemukan hal baru, tidak lebih. Saya akan dengan sangat ikhlas jika saya menikah dan suami saya menyuruh saya untuk menjadi ibu rumah tangga. Lalu, dengan semua keadaan ini, apa saya masih harus sekolah?? saya takut itu semua menjadi mubazir, karena mungkin ada hal lain yang lebih baik untuk saya jalani."

Pak dosen pun terdiam, semua cerita mahasiswinya adalah logika ringan yang sangat masuk akal, dan dia tidak bisa disalahkan dengan pikirannya. Dosen itu pun berfikir, memejamkan mata.

Kemudian pak dosen berkata seperti ini kepada mahasiswinya
"Dek, sekarang bertanyalah kepada hati kecil mu, apa dia masih menginginkan dirimu untuk melanjutkan pendidikan ini hingga puncak nanti.."

Sang mahasiswi bingung, dia menunduk, air mata turun dari kedua matanya, seakan dia merasakan konflik hati yang sangat besar yang saling ingin meniadakan. Dosen itu melanjutkan nasehatnya

"Dek, saya ingin bertanya kepadamu, kapan pertama kali engkau berhadapan dengan seorang S3 dan mendapat ilmu darinya?"

"Sejak saya kuliah di ITB , Pak." Jawab sang gadis.

Kemudian dosen itu melanjutkan ,"Ya dek, betul, saya pun demikian, saya baru diajar oleh seorang lulusan S3 semenjak saya kuliah di kampus ini. Tapi dek, coba adek pikirkan, bahwa saat engkau memiliki anak, maka orang pertama yang akan menyapih rambut anakmu adalah seorang lulusan S3. Orang yang pertama mengajaknya berjalan adalah seorang ilmuwan tinggi, dan sejak dia mulai membaca, dia akan dibimbing dan dijaga oleh seorang Doktor. Itulah peranmu sebagai ibu nanti, apakah engkau bisa membayangkan betapa beruntungnya anak manusia yang akan kau lahirkan nanti."

Dan itulah jawaban Allah SWT melalui pak dosen. Mahasiswi itu tersadar dari konflik panjangnya, dan ia tersenyum bahagia, sangat bahagia, air matanya menjadi air mata haru, dan ia berdiri, mengucapkan terima kasih nya kepada sang dosen, dan berkata , "Pak, terima kasih, akan saya lanjutkan pendidikan ini hingga tidak satupun puncak lagi yang menghalangi saya."

Betapa hidup itu sangat berarti, dan jadikan ia bermakna. Bukan uang yang nanti akan membuatmu bahagia, tetapi rasa syukur mu lah yang akan menjadi kebahagiaan yang hakiki,.


dari: http://www.myquran.com/

PS: Teruntuk saudari2ku, para calon doktor, semoga Allah menyampaikan cita-cita tertinggi kita. Man jadda wajada. Selalu ada jalan bagi siapapun yang berusaha. Semangat!

Wednesday, September 22, 2010

karena kusanggup -agnes monica

biar aku sentuhmu berikanku rasa itu
pelukmu yang dulu pernah buatku
ku tak bisa paksamu tuk tinggal di sisiku
walau kau yang selalu sakiti aku dengan perbuatanmu
namun sudah kau pergilah jangan kau sesali

reff:
karena ku sanggup walau ku tak mau
berdiri sendiri tanpamu
aku mau kau tak usah ragu tinggalkan aku
kalau memang harus begitu

tak yakin ku kan mampu hapus rasa sakitku
ku selalu perjuangkan cinta kita namun apa salahku
hingga ku tak layak dapatkan kesungguhanmu


*courtesy of LirikLaguIndonesia.net

..

semua orang bilang kamu hebat.
ya, kamu memang hebat, aku tahu kamu memang hebat.

tapi aku tak bisa sesenang itu. belum, mungkin.
butuh adaptasi yang sangat hebat untuk bisa menjadikanku mandiri tanpa kamu.
mandiri untuk bisa tidak berkomunikasi denganmu.
bukan tidak bisa, tapi sulit. sangat sulit.
aku tak pernah memaksamu untuk tidak mengambil kesempatan itu,
dan jangan paksa aku jika aku berubah karena kesendirianku
bukan perasaanku, tapi hanya tingkah lakuku,
untuk mempertahankan diri dalam kesunyian ini.

tenang saja, cepat atau lambat aku pasti akan bisa tersenyum jika orang lain memberikan ucapan selamat untukmu melalui aku.

hanya setahun, bukan selamanya.
setahun yang menjadikan kata 'selamanya' menjadi tak berarti.